Setiap kali Tahun Baru Islam datang, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambutnya dengan doa, dzikir, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Kalender Hijriah bertambah satu angka, spanduk-spanduk ucapan selamat tahun baru dipasang, dan ceramah tentang hijrah kembali menggema di mimbar-mimbar masjid.
Namun di balik suasana religius tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang layak direnungkan bersama: apakah umat Islam benar-benar sedang berhijrah, atau hanya berpindah kalender?
Pertanyaan tersebut penting diajukan karena hakikat hijrah bukanlah perpindahan waktu, melainkan perpindahan kualitas.
Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi transformasi besar yang mengubah masyarakat yang terpecah menjadi masyarakat yang berperadaban.
Hijrah melahirkan perubahan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan yang kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia (Lapidus, 2014).
Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Islam, umat Islam seharusnya tidak hanya menghitung bertambahnya usia kalender Hijriah, tetapi juga mengevaluasi sejauh mana mereka bergerak maju dalam membangun kualitas kehidupan. Sebab pergantian tahun yang tidak disertai perubahan berarti hanyalah perpindahan angka tanpa perpindahan makna.
Jika dilihat dari jumlah pemeluknya, umat Islam merupakan salah satu komunitas terbesar di dunia.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah umat Islam telah melampaui dua miliar jiwa dan tersebar di lebih dari 50 negara (Pew Research Center, 2024).
Namun besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan inovasi global.
Ironisnya, agama yang memulai revolusi peradabannya dengan wahyu pertama berupa perintah membaca, justru menghadapi persoalan serius dalam bidang literasi, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Laporan UNESCO menunjukkan bahwa investasi penelitian dan pengembangan (research and development) di sebagian besar negara Muslim masih berada di bawah rata-rata negara maju, sementara kontribusi terhadap paten global dan inovasi teknologi juga relatif rendah (UNESCO, 2024).
Fenomena ini menghadirkan paradoks besar dalam sejarah Islam modern. Umat yang meyakini dirinya sebagai pewaris peradaban Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Jabir ibn Hayyan, dan Ibnu Khaldun justru lebih banyak menjadi pengguna teknologi dibandingkan pencipta teknologi.
Kita mengonsumsi kecerdasan buatan, tetapi belum menjadi pemain utama dalam pengembangannya.
Kita menggunakan berbagai platform digital global, tetapi belum mampu melahirkan perusahaan teknologi kelas dunia dalam jumlah signifikan.
Kita menikmati hasil revolusi industri 4.0, tetapi sering kali tertinggal dalam mengendalikan arah perkembangannya.
Padahal dalam sejarahnya, Islam pernah menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan dunia. Pada masa Abbasiyah, Baghdad menjadi episentrum intelektual global yang menarik para ilmuwan dari berbagai bangsa dan agama untuk melakukan riset, penerjemahan, dan inovasi ilmiah (Saliba, 2011).
Salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah kecenderungan terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu.
Kebanggaan terhadap sejarah Islam memang penting sebagai sumber inspirasi, tetapi ketika nostalgia berubah menjadi pelarian dari realitas, maka ia justru menjadi penghambat kemajuan.
Banyak forum keislaman lebih sering membahas kehebatan masa lalu dibandingkan strategi menghadapi tantangan masa depan.
Kita sering mengagumi pencapaian ilmuwan Muslim abad pertengahan, tetapi kurang serius membangun generasi ilmuwan Muslim abad ke-21.Padahal dunia saat ini sedang bergerak sangat cepat.
Revolusi kecerdasan buatan, komputasi kuantum, bioteknologi, energi terbarukan, dan ekonomi digital sedang mengubah wajah peradaban manusia secara fundamental.
Menurut laporan World Economic Forum (2025), perubahan teknologi akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing suatu bangsa dalam dua dekade mendatang.
Pertanyaannya, di mana posisi umat Islam dalam perubahan besar tersebut?
Jika umat Islam hanya menjadi penonton dalam transformasi global, maka ketertinggalan akan semakin melebar.
Hijrah pada era modern tidak lagi sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi berpindah dari ketergantungan menuju kemandirian, dari konsumsi menuju produksi, dan dari keterbelakangan menuju inovasi.
Selain persoalan ilmu pengetahuan, umat Islam juga menghadapi tantangan serius berupa fragmentasi sosial dan politik.
Di berbagai negara, konflik identitas, polarisasi kelompok, dan perdebatan internal sering kali menguras energi yang seharusnya digunakan untuk membangun kemajuan bersama.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rendahnya modal sosial dan lemahnya budaya kolaborasi menjadi salah satu faktor yang menghambat pembangunan masyarakat di banyak negara berkembang (World Bank, 2024).
Fenomena tersebut tampak ketika perbedaan mazhab, organisasi, pilihan politik, bahkan persoalan-persoalan yang bersifat furu’iyah sering kali berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Padahal dunia luar sedang bergerak cepat membangun inovasi, memperkuat ekonomi, dan menguasai teknologi masa depan.
Akibatnya, energi umat lebih banyak habis untuk mempertahankan perbedaan daripada menciptakan kemajuan.
Hijrah yang Sesungguhnya: Dari Umat Konsumen Menjadi Umat Pencipta
Makna terdalam hijrah pada abad ke-21 adalah keberanian melakukan transformasi peradaban.
Hijrah berarti mengubah budaya malas membaca menjadi budaya literasi.
Hijrah berarti mengubah mentalitas menunggu menjadi mentalitas berkarya.
Hijrah berarti mengubah kebiasaan menyalahkan keadaan menjadi kebiasaan mencari solusi.
Hijrah berarti mengubah ketergantungan menjadi kemandirian.
Hijrah berarti mengubah umat yang hanya mengonsumsi pengetahuan menjadi umat yang memproduksi pengetahuan.
Ekonom pemenang Nobel, Douglass North (1990), menegaskan bahwa kemajuan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan budaya yang mendukung inovasi.
Pandangan tersebut aktualisasinya adalah harus dimulai dari perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan.
Karena itu, semangat hijrah pada Tahun Baru Islam 1448 H tidak cukup diwujudkan dalam slogan-slogan religius. Ia harus diterjemahkan dalam tindakan nyata berupa peningkatan kualitas pendidikan, penguatan riset, pembangunan ekonomi produktif, pengembangan teknologi, serta penguatan etika sosial dan politik.
Tahun Baru Islam sesungguhnya adalah momentum evaluasi peradaban. Ia mengajak umat untuk tidak hanya mengenang perjalanan Nabi Muhammad Saw., tetapi juga meneladani keberanian beliau dalam melakukan perubahan besar.
Hijrah tidak pernah mengajarkan umat untuk berdiam diri dalam kebanggaan masa lalu. Hijrah mengajarkan keberanian meninggalkan zona nyaman menuju masa depan yang lebih baik.
Karena itu, pertanyaan paling penting pada Tahun Baru Islam 1448 H bukanlah berapa usia kalender Hijriah saat ini.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: sudahkah kita berhijrah dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari perpecahan menuju kolaborasi, dan dari nostalgia menuju pembangunan peradaban?
Sebab jika pergantian tahun hanya menghasilkan perubahan angka tanpa perubahan kualitas, maka yang terjadi sesungguhnya bukan hijrah, melainkan sekadar berpindah kalender. Wallahu a'lam bisshawab.
"Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H./2026 M."
"SalamaKi Topada Salama, resopa temmanginggi naletei pammase DewaraE".
Email: muhammadtang.mt78@gmail.com
Hp. 08114441978.
