K1NG5T3R-1COLL3GE101

Ketika Agama Ramai di Mimbar, tetapi Sunyi dalam Perilaku Sosial


Fenomena keagamaan di Indonesia  hampir setiap hari dipenuhi ceramah agama, pengajian, khutbah, kajian daring, dan berbagai simbol religiusitas, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama: 

Mengapa pada saat yang sama kita masih menyaksikan korupsi tumbuh subur,  ketidakjujuran, ujaran kebencian, intoleransi, kekerasan, hingga ketidakpedulian sosial yang terus berlangsung?

Masjid semakin megah, rumah ibadah semakin banyak, jamaah umrah dan haji terus meningkat, tetapi kasus korupsi juga tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir. 

Media sosial dipenuhi kutipan ayat dan hadis, tetapi ruang digital justru sering menjadi arena saling mencaci dan memfitnah. Agama tampak ramai di mimbar, tetapi sering kali sunyi dalam perilaku sosial.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sosial yang lebih mendalam. Ada jarak yang semakin lebar antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Ada ketimpangan antara banyaknya simbol agama dengan minimnya transformasi moral dalam kehidupan sehari-hari.

Sosiolog agama terkemuka, Peter L. Berger (2014), menjelaskan bahwa modernitas tidak selalu menghilangkan agama, tetapi sering kali mengubah cara agama dihayati dalam kehidupan sosial. Agama tetap hadir secara simbolik, tetapi tidak selalu berhasil menjadi kekuatan etis yang mengarahkan perilaku masyarakat. 

Dalam konteks Indonesia, paradoks tersebut tampak jelas. Berdasarkan survei berbagai lembaga internasional, Indonesia termasuk negara dengan tingkat religiositas yang tinggi.

 Namun, pada saat yang sama, berbagai indikator tata kelola pemerintahan, korupsi, dan integritas sosial masih menghadapi tantangan serius (Transparency International, 2024).

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberagamaan yang berkembang sering kali lebih menekankan aspek identitas daripada substansi. 

Agama menjadi penanda siapa kita, tetapi belum sepenuhnya menjadi pedoman bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Padahal, dalam perspektif Islam, ukuran keberagamaan tidak berhenti pada ritual. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (Al-Ṭabarānī, n.d.).

Dengan kata lain, kualitas iman tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga dari kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Salah satu problem besar umat beragama saat ini adalah kecenderungan memisahkan antara ibadah dan tanggung jawab sosial.

Shalat dipahami sebagai urusan pribadi. Puasa dianggap sebagai hubungan individual dengan Tuhan. Haji dilihat sebagai pencapaian spiritual personal. Padahal seluruh ibadah tersebut memiliki dimensi sosial yang sangat kuat.

Pemikir Muslim kontemporer, Tariq Ramadan (2017), menegaskan bahwa spiritualitas Islam sejatinya harus menghasilkan komitmen sosial yang nyata. Ibadah yang tidak melahirkan kepedulian sosial berpotensi kehilangan makna transformasinya 

Al-Qur'an sendiri memberikan kritik keras kepada orang-orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan kemanusiaan. Dalam Surah Al-Ma'un, Allah menghubungkan pendustaan agama dengan sikap mengabaikan anak yatim dan tidak peduli kepada orang miskin.

Pesan ini sangat relevan hari ini. Sebab persoalan utama umat bukan kekurangan ceramah, melainkan kekurangan keteladanan. Bukan kekurangan dakwah, melainkan kekurangan implementasi dakwah dalam tindakan sosial.

Era digital menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan beragama. Media sosial memungkinkan setiap orang menjadi penceramah, pengkritik, bahkan hakim moral bagi orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Religion, Media and Digital Culture menunjukkan bahwa agama di ruang digital sering mengalami proses simplifikasi dan polarisasi. Narasi yang emosional dan provokatif lebih cepat menyebar dibandingkan pesan-pesan yang mendalam dan reflektif (Campbell & Tsuria, 2021).

Akibatnya, agama sering tampil sebagai alat pembenaran kelompok, bukan sebagai sumber kebijaksanaan universal.

Orang menjadi mudah menghakimi tetapi sulit memahami. Mudah menyalahkan tetapi sulit membantu. Mudah mengutuk tetapi sulit merangkul.

Padahal hakikat agama bukan memperbanyak permusuhan, melainkan memperluas kasih sayang. Persoalan yang lebih serius adalah munculnya krisis empati.

Laporan terbaru mengenai perkembangan sosial global menunjukkan bahwa polarisasi identitas dan menurunnya kepercayaan sosial menjadi salah satu tantangan utama masyarakat modern (World Economic Forum, 2025).

Dalam masyarakat yang semakin individualistik, orang sering lebih sibuk mempertahankan identitas kelompok daripada membangun solidaritas kemanusiaan.

Kita dapat melihatnya dalam berbagai peristiwa sosial. Ketika terjadi bencana, bantuan sering kali masih mempertimbangkan identitas.

Ketika terjadi konflik, orang lebih cepat memilih kubu daripada mencari solusi.

Ketika ada orang miskin, perhatian sering kalah oleh perdebatan politik.

Di sinilah agama kehilangan daya transformasinya. Agama yang seharusnya menjadi energi kemanusiaan berubah menjadi simbol formalitas.

Masyarakat Bugis-Makassar memiliki warisan nilai yang sangat relevan untuk menjawab persoalan ini, yaitu siri’ na pacce.

Siri’ mengajarkan kehormatan moral dan integritas diri.

Sementara pacce mengajarkan empati mendalam terhadap penderitaan orang lain.

Dalam budaya Bugis-Makassar, seseorang dianggap belum sempurna jika hanya menjaga martabat dirinya tetapi tidak peduli terhadap kesulitan orang lain.

Nilai ini sejatinya sangat dekat dengan ajaran Islam. Kesalehan bukan hanya menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, agama dan budaya lokal sebenarnya bertemu pada titik yang sama: membangun manusia yang bermartabat sekaligus berbelas kasih.

Tantangan terbesar umat hari ini bukan memperbanyak simbol agama, melainkan mengubah energi agama menjadi energi peradaban.

Khutbah harus melahirkan kejujuran.

Pengajian harus melahirkan kepedulian.

Dzikir harus melahirkan ketenangan sosial.

Haji harus melahirkan solidaritas kemanusiaan.

Jika tidak, agama hanya akan menjadi rutinitas yang berulang tanpa menghasilkan perubahan nyata.

Pemikir Islam asal Pakistan, Fazlur Rahman (2017), menegaskan bahwa tujuan utama ajaran Islam adalah membangun masyarakat yang adil, bermoral, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia (Rahman, 2017).

Dengan demikian, ukuran keberhasilan agama tidak semata-mata banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi sejauh mana nilai-nilai agama mampu menghadirkan keadilan, kejujuran, dan kepedulian sosial.

Di tengah meningkatnya gairah keberagamaan masyarakat Indonesia, pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang agama, melainkan seberapa jauh agama telah mengubah cara kita memperlakukan sesama manusia.

Sebab sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun hanya oleh banyaknya rumah ibadah, melainkan oleh lahirnya manusia-manusia yang menjadikan nilai agama sebagai etika kehidupan.

Mimbar akan selalu ramai.

Ceramah akan terus bergema.

Media sosial akan tetap dipenuhi nasihat keagamaan.

Namun masa depan bangsa ini sesungguhnya ditentukan oleh satu hal yang sederhana tetapi sangat mendasar: apakah agama hanya berhenti di lisan, atau benar-benar hidup dalam tindakan sosial kita sehari-hari.

Karena pada akhirnya, ukuran keberagamaan yang paling otentik bukanlah seberapa tinggi suara kita berbicara tentang Tuhan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan manusia karena kehadiran kita. Wallahu a'lam bisshawab 

Referensi

Berger, P. L. (2014). The many altars of modernity: Toward a paradigm for religion in a pluralist age. De Gruyter.

Campbell, H. A., & Tsuria, R. (2021). Religion and digital media: Negotiating authority and authenticity. Journal of Religion, Media and Digital Culture, 10(1), 1–18.

Fazlur Rahman. (2017). Major themes of the Qur'an (2nd ed.). University of Chicago Press.

Ramadan, T. (2017). Islam: The essentials. Penguin Books.

Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2024. Transparency International.

World Economic Forum. (2025). Global Risks Report 2025. World Economic Forum.


Email: muhammadtang.mt78@gmail.com

Hp. 08114441978

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox