Padahal, jauh sebelum manusia memikirkan tentang masa depannya, Allah SWT telah memberikan jaminan yang sangat jelas dalam Al-Qur'an:
"Wa mā min dābbatin fil arḍi illā 'alallāhi rizquhā."
"Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6).
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling kuat dalam membangun optimisme hidup seorang mukmin. Allah tidak hanya menjamin rezeki manusia, tetapi juga seluruh makhluk yang bergerak di muka bumi.
Menariknya, ayat ini tidak berbicara tentang manusia terlebih dahulu, melainkan tentang seluruh makhluk hidup. Semut, burung, ikan, lebah, bahkan makhluk-makhluk kecil yang tidak pernah dikenal manusia sekalipun berada dalam jaminan pemeliharaan Allah.
Lalu pertanyaannya, jika binatang saja dijamin rezekinya, mengapa manusia sering kehilangan harapan?
Kesalahan terbesar manusia modern adalah menyempitkan makna rezeki hanya pada uang dan materi.
Padahal dalam perspektif Islam, rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas. Kesehatan adalah rezeki, keluarga yang harmonis adalah rezeki, Ilmu pengetahuan adalah rezeki, kesempatan belajar adalah rezeki sahabat yang baik adalah rezeki.
Bahkan kemampuan untuk bernapas dengan normal setiap hari merupakan rezeki yang luar biasa.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata rizq dalam Al-Qur'an mencakup segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan manusia untuk menunjang kehidupannya, baik bersifat material maupun nonmaterial (Shihab, 2002).
Karena itu, ketika seseorang hanya menghitung rezeki dari jumlah uang yang dimilikinya, sesungguhnya ia sedang mengabaikan banyak nikmat Allah yang telah hadir dalam hidupnya.
Namun ayat tentang jaminan rezeki tidak boleh dipahami secara fatalistik. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa manusia cukup duduk diam lalu menunggu rezeki turun dari langit.
Rasulullah SAW memberikan penjelasan yang sangat menarik:
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).
Perhatikanlah burung; a tidak memiliki gudang penyimpanan, ia tidak memiliki rekening, ia tidak memiliki jaminan pekerjaan. Tetapi setiap pagi ia keluar dari sarangnya;
Ia terbang.....Ia mencari.....
Ia berusaha.....ia bergerak.
Dan Allah mempertemukannya dengan rezekinya.
Psikologi modern menemukan bahwa individu yang memiliki harapan dan optimisme cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup dibandingkan mereka yang hidup dalam pesimisme.
Seligman (2018) menjelaskan bahwa optimisme bukan sekadar cara berpikir positif, tetapi kemampuan melihat masa depan sebagai ruang kemungkinan yang masih terbuka.
Orang yang optimis akan terus mencoba meskipun gagal. Sebaliknya, orang yang pesimis sering kali menyerah sebelum berusaha.
Dalam konteks ini, keyakinan bahwa Allah menjamin rezeki sesungguhnya memiliki dampak psikologis yang sangat besar. Keyakinan tersebut melahirkan ketenangan, keberanian mengambil peluang, dan daya tahan menghadapi kesulitan.
Dalam teori modal sosial (social capital), keberhasilan seseorang sering kali ditentukan oleh kemampuannya membangun jaringan sosial, kepercayaan, dan kolaborasi (Putnam, 2020).
Artinya, rezeki tidak hanya datang melalui kerja individu, tetapi juga melalui hubungan sosial yang sehat.
Karena itu, seseorang yang ingin memperluas rezekinya harus memperluas manfaatnya kepada orang lain.
Semakin banyak manfaat yang diberikan kepada masyarakat, semakin besar peluang terbukanya pintu-pintu rezeki.
Inilah sebabnya mengapa banyak orang sukses bukan karena mereka paling pintar, tetapi karena mereka mampu membangun kepercayaan dan memberikan manfaat kepada lingkungan sekitarnya
Kearifan lokal Bugis-Makassar memiliki pandangan yang sangat dekat dengan spirit Islam tentang ikhtiar.
Leluhur Bugis mewariskan petuah:
"Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata."
Artinya:
"Hanya dengan kerja keras dan kesungguhan, rahmat Tuhan akan turun."
Petuah ini mengandung pesan yang sangat mendalam.
Rahmat Allah memang datang dari langit. Tetapi manusia harus menjemputnya melalui kerja keras di bumi. Tidak ada petani yang memperoleh panen tanpa menanam.
Tidak ada nelayan yang memperoleh ikan tanpa berlayar. Tidak ada ilmuwan yang menemukan ilmu tanpa belajar. Tidak ada bangsa yang maju tanpa bekerja keras.
Dalam perspektif Bugis-Makassar, kerja keras bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi bagian dari kehormatan diri (siri').
Karena itu, bermalas-malasan sesungguhnya bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mengurangi martabat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah kehilangan harapan. Padahal Allah SWT berfirman:
"Lā taqnaṭū min raḥmatillāh."
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53).
Putus asa sering muncul ketika manusia hanya melihat keterbatasan dirinya dan lupa melihat kebesaran Tuhannya.
Kita menghitung masalah, tetapi lupa menghitung pertolongan Allah yang selama ini telah diberikan.
Kita mengingat kegagalan, tetapi lupa bahwa selama ini Allah telah menyelamatkan kita dari banyak kesulitan.
Kita terlalu fokus pada pintu yang tertutup, sehingga tidak melihat pintu-pintu lain yang sedang dibukakan.
Allah juga mengajarkan bahwa setiap rezeki memiliki jalannya, dan jalan itu harus ditempuh dengan usaha, doa, kerja keras, dan kesabaran.
Maka jangan takut melangkah.
Jangan takut memulai usaha.
Jangan takut bermimpi besar.
Jangan takut mencoba lagi setelah gagal.
Sebab burung yang setiap pagi meninggalkan sarangnya tidak pernah tahu di mana rezekinya berada. Tetapi ia tetap terbang. Dan Allah selalu mempertemukannya dengan apa yang telah ditetapkan untuknya.
Karena sesungguhnya, langit menjamin rezeki, tetapi bumi menuntut ikhtiar dan Doa. Wallahu a'lam bisshawab.
Referensi
Putnam, R. D. (2020). The Upswing: How America Came Together a Century Ago and How We Can Do It Again. Simon & Schuster.
Seligman, M. E. P. (2018). The Hope Circuit: A Psychologist's Journey from Helplessness to Optimism. PublicAffairs.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an. Lentera Hati.
Al-Qur'an al-Karim, QS. Hud: 6; QS. Az-Zumar: 53.
Email: muhammadtang.mt78@gmail.com
Hp. 08114441978
