K1NG5T3R-1COLL3GE101

“Globalisasi Pendidikan atau Westernisasi Pengetahuan? Membaca Krisis Epistemologi Pendidikan Islam Kontemporer”


 Globalisasi sering dipresentasikan sebagai gerbang kemajuan peradaban manusia. Dunia pendidikan pun ikut bergerak menuju sistem global yang seragam: kurikulum internasional, standar kompetensi universal, digitalisasi pembelajaran, publikasi ilmiah bereputasi internasional, hingga orientasi pendidikan berbasis pasar kerja global. 

Dalam satu sisi, globalisasi membuka peluang besar bagi akselerasi ilmu pengetahuan dan konektivitas akademik dunia. Namun di sisi lain, globalisasi juga melahirkan pertanyaan epistemologis yang sangat mendasar: apakah globalisasi pendidikan sesungguhnya merupakan proses pertukaran ilmu yang setara, atau justru bentuk baru dari westernisasi pengetahuan?

Pertanyaan ini menjadi penting karena dalam praktiknya, globalisasi pendidikan sering kali berjalan tidak netral. Sistem pengetahuan modern masih didominasi oleh paradigma Barat, baik dalam metodologi, teori, bahasa akademik, hingga standar legitimasi ilmu. 

Akibatnya, banyak tradisi intelektual lokal dan keagamaan perlahan tersingkir dari ruang akademik global. Pengetahuan yang dianggap “ilmiah” sering kali hanyalah pengetahuan yang sesuai dengan kerangka epistemologi Barat modern (Mignolo, 2011).

Fenomena tersebut dalam kajian postcolonial studies disebut sebagai coloniality of knowledge, yakni dominasi epistemologis Barat terhadap cara manusia memahami realitas dan membangun sistem pengetahuan (Mignolo, 2011). 

Dalam konteks pendidikan Islam, kolonialisasi epistemologi ini melahirkan dualisme ilmu: ilmu agama dipandang tradisional dan normatif, sementara ilmu modern dianggap rasional dan progresif. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan Islam mengalami krisis identitas epistemologis; mereka ingin modern tetapi kehilangan akar filosofis dan spiritualnya.

Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa globalisasi pendidikan sering mereproduksi hegemoni intelektual Barat melalui kurikulum, bahasa, dan orientasi pendidikan modern.

 Husni, Zuhdiyah, dan Soraya (2026) menjelaskan bahwa banyak negara Muslim masih menjadikan sistem pendidikan Barat sebagai model utama pembangunan pendidikan tanpa proses kontekstualisasi budaya dan spiritual yang memadai. Akibatnya, pendidikan kehilangan relevansi sosial dan identitas peradabannya.

Padahal dalam sejarah Islam, ilmu pengetahuan berkembang melalui integrasi antara wahyu, rasio, dan pengalaman empiris. Peradaban Islam klasik tidak pernah memisahkan sains dari spiritualitas. 

Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Khaldun membangun tradisi ilmu yang integratif; menghubungkan metafisika, etika, sains, dan kehidupan sosial dalam satu kesatuan epistemologis.

Namun modernitas Barat pasca-Pencerahan (Enlightenment) mengembangkan paradigma sekularistik yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Tradisi positivisme modern menempatkan rasionalitas empiris sebagai satu-satunya sumber legitimasi ilmu. 

Dalam hal ini, wahyu dan spiritualitas sering dipinggirkan dari ruang akademik. Akibatnya, pendidikan modern menjadi sangat teknokratis tetapi miskin dimensi etik dan transendental.

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam pendidikan global saat ini. Sekolah dan universitas berlomba mengejar ranking internasional, akreditasi global, dan produktivitas publikasi ilmiah, tetapi sering melupakan pembentukan karakter, hikmah, dan kemanusiaan. 

Pendidikan berubah menjadi instrumen kompetisi ekonomi global, bukan lagi sarana memanusiakan manusia.

Byung-Chul Han (2022) menyebut kondisi ini sebagai performance society, yakni masyarakat yang mengukur manusia berdasarkan produktivitas dan efisiensinya semata.

 Pendidikan akhirnya lebih banyak menghasilkan manusia kompetitif daripada manusia reflektif. Dalam dunia global yang serba cepat, ilmu kehilangan dimensi kebijaksanaan dan moralitas.

Dalam perspektif Islam, ilmu bukan sekadar alat produksi ekonomi, tetapi jalan menuju pengenalan terhadap Tuhan dan kemuliaan manusia. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1).

Menurut Quraish Shihab (2002), kata iqra’ dalam ayat tersebut tidak hanya berarti membaca teks, tetapi membaca realitas sosial, membaca alam semesta, dan membaca diri manusia secara holistik. Dengan demikian, epistemologi Islam sejak awal bersifat integratif dan multidimensional.

Al-Qur’an juga menegaskan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab (2002) menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan hubungan erat antara iman dan ilmu. Pengetahuan tanpa moralitas akan melahirkan kerusakan, sementara spiritualitas tanpa ilmu akan melahirkan stagnasi. Karena itu, pendidikan Islam idealnya membangun keseimbangan antara IMTAK dan IPTEK.

Persoalannya, globalisasi pendidikan hari ini justru sering membawa proses homogenisasi budaya dan epistemologi. Bahasa Inggris menjadi simbol superioritas akademik, sementara pengetahuan lokal dianggap kurang ilmiah. 

Dalam banyak kasus, globalisasi pendidikan bahkan melahirkan alienasi budaya: peserta didik mengenal teori Barat lebih baik daripada memahami falsafah lokalnya sendiri.

Padahal local wisdom sesungguhnya mengandung nilai-nilai filosofis yang sangat relevan bagi masa depan pendidikan global.

 Dalam tradisi Bugis-Makassar misalnya, terdapat konsep sipakatau (saling memanusiakan manusia), sipakainge’ (saling mengingatkan), dan mali’ siparappe’ (solidaritas sosial). Nilai-nilai ini sangat penting di tengah dunia global yang semakin individualistik dan kompetitif.

Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”

“Kerja keras dan ketekunan akan menghadirkan rahmat Tuhan.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam budaya lokal tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga etos moral dan spiritual.

Penelitian terbaru tentang pendidikan Islam global menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dan dekolonial dalam membangun sistem pendidikan yang lebih kontekstual dan humanis. 

Supriyanto (2026) menjelaskan bahwa pendidikan Islam masa depan harus mampu melakukan epistemological integration, yakni mengintegrasikan sains modern dengan nilai spiritual, budaya lokal, dan orientasi kemanusiaan.

Karena itu, tantangan terbesar pendidikan Islam hari ini bukan sekadar bagaimana menjadi modern, tetapi bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan identitas epistemologis dan spiritualnya. 

Globalisasi pendidikan tidak boleh berubah menjadi westernisasi pengetahuan yang mencabut manusia dari akar budaya dan nilai transendennya.

Pendidikan Islam masa depan harus bergerak menuju paradigma glocal education: berpikir global tetapi berakar lokal; menguasai teknologi modern tetapi tetap menjaga hikmah dan adab; aktif dalam percaturan ilmu dunia tetapi tetap berpijak pada nilai Qur’ani dan kearifan peradaban sendiri.

Sebab kemajuan sejati bukanlah ketika sebuah bangsa mampu meniru Barat secara sempurna, tetapi ketika ia mampu membangun ilmu pengetahuan yang maju tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan sebagai peradaban.

Email: muhammadtang.mt78@gmail.com 

Hp. 08114441978

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox