Salah satu perubahan paling mendasar dalam dunia pendidikan abad ke-21 adalah bergesernya otoritas pengetahuan. Jika dahulu guru, ulama, dan lembaga pendidikan menjadi pusat utama transmisi ilmu, maka hari ini posisi tersebut mulai digantikan oleh algoritma digital. Anak-anak dan generasi muda kini lebih banyak belajar dari TikTok, YouTube, Instagram, ChatGPT, dan mesin pencarian dibanding dari guru di ruang kelas atau majelis ilmu. Fenomena ini menandai lahirnya era baru: ketika algoritma mulai mengalahkan guru dalam membentuk cara berpikir manusia.
Perubahan tersebut bukan sekadar transformasi teknologi, tetapi transformasi epistemologis. Otoritas ilmu tidak lagi berbasis kedalaman pengetahuan dan sanad keilmuan, melainkan kecepatan distribusi informasi dan popularitas digital. Dalam dunia algoritmik, yang dianggap “benar” sering kali bukan yang paling ilmiah atau paling bijaksana, tetapi yang paling viral dan paling menarik perhatian publik.
Fenomena ini sangat memengaruhi pendidikan Islam. Selama berabad-abad, tradisi pendidikan Islam dibangun melalui hubungan spiritual dan intelektual antara guru dan murid. Guru bukan hanya penyampai informasi, tetapi pembimbing adab, akhlak, dan pembentukan jiwa. Dalam tradisi pesantren misalnya, keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada isi pelajaran, tetapi pada keteladanan dan kedalaman spiritual seorang guru.
Namun hari ini, otoritas tersebut mulai mengalami disrupsi. Banyak peserta didik merasa cukup belajar melalui video pendek dan konten instan. Mereka lebih percaya pada influencer digital dibanding ulama atau guru yang memiliki otoritas keilmuan. Akibatnya, proses belajar kehilangan dimensi kontemplatif dan etis. Pengetahuan berubah menjadi konsumsi cepat, bukan proses pendewasaan intelektual dan spiritual.
Dalam perspektif sosiologi digital, fenomena ini merupakan dampak dari algorithmic culture, yakni budaya yang dibentuk oleh sistem algoritma media sosial dan mesin pencarian (Striphas, 2015). Algoritma bekerja berdasarkan logika perhatian (attention economy): semakin sensasional dan menarik suatu konten, maka semakin besar peluangnya disebarkan. Akibatnya, ilmu pengetahuan pun sering direduksi menjadi hiburan digital yang dangkal.
Byung-Chul Han (2022) menyebut masyarakat modern sebagai infocracy society, yakni masyarakat yang dikuasai oleh arus informasi tanpa kedalaman refleksi. Informasi bergerak sangat cepat, tetapi hikmah semakin hilang. Manusia mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami makna dari apa yang diketahuinya.
Dalam konteks pendidikan Islam, situasi ini sangat problematis. Sebab pendidikan Islam pada hakikatnya bukan sekadar transfer informasi (ta’lim), tetapi pembentukan adab (ta’dib) dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1991) menegaskan bahwa inti pendidikan Islam adalah melahirkan manusia beradab yang mampu menempatkan ilmu secara benar dalam relasi dengan Tuhan, manusia, dan alam.
Karena itu, guru dalam Islam memiliki posisi yang sangat mulia. Al-Qur’an sendiri menempatkan ilmu sebagai fondasi utama peradaban manusia. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1).
Menurut M. Quraish Shihab, kata iqra’ tidak sekadar berarti membaca teks, tetapi membaca realitas, membaca diri, dan membaca tanda-tanda Tuhan dalam kehidupan (Shihab, 2002). Dalam konteks ini, guru berfungsi sebagai pembimbing manusia untuk memahami makna ilmu secara utuh, bukan sekadar menghafal informasi.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits ini menunjukkan bahwa inti risalah kenabian adalah pendidikan dan pembentukan manusia. Rasulullah SAW mendidik tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keteladanan hidup. Inilah yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh algoritma.
Masalahnya, algoritma digital tidak memiliki dimensi moral dan spiritual. Algoritma bekerja berdasarkan data, pola perilaku, dan kepentingan ekonomi platform digital. Ia tidak peduli apakah informasi yang disebarkan membangun hikmah atau justru merusak kesadaran manusia. Karena itu, ketika manusia menyerahkan sepenuhnya proses belajar kepada algoritma, maka pendidikan berisiko kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya.
Fenomena ini semakin kompleks karena generasi digital tumbuh dalam budaya instan. Mereka terbiasa memperoleh jawaban cepat tanpa proses mendalam. Padahal dalam tradisi Islam, ilmu diperoleh melalui kesabaran, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru. Imam Malik bahkan pernah berkata:
“Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan adab.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan kognitif, tetapi pembentukan karakter dan spiritualitas.
Dalam budaya Bugis-Makassar, penghormatan kepada guru juga memiliki posisi sangat tinggi. Tradisi sipakainge’ (saling mengingatkan) menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi relasi moral dan sosial antar manusia. Guru dipandang sebagai pembimbing kehidupan, bukan sekadar penyampai materi.
Namun di era digital, relasi tersebut mulai melemah. Guru sering kalah menarik dibanding konten hiburan media sosial. Bahkan otoritas keilmuan sering dikalahkan oleh popularitas digital. Orang yang sedikit ilmunya tetapi pandai bermain algoritma bisa lebih dipercaya dibanding ilmuwan atau ulama yang mendalam ilmunya.
Meski demikian, teknologi sesungguhnya bukan musuh pendidikan Islam. Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi menggantikan fungsi moral dan spiritual guru. Karena itu, masa depan pendidikan Islam bukan menolak teknologi, tetapi mengintegrasikan teknologi dengan hikmah dan adab. Guru harus mampu menjadi murabbi digital pendidik yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga membimbing peserta didik agar bijak menggunakan teknologi.
Pendidikan Islam masa depan harus mengajarkan literasi digital sekaligus literasi moral. Peserta didik perlu diajarkan cara memverifikasi informasi, memahami etika digital, dan menjaga kedalaman refleksi di tengah banjir informasi. Sebab tantangan terbesar generasi modern bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan hikmah dalam menggunakan informasi.
Algoritma mungkin dapat menyampaikan data lebih cepat daripada guru, tetapi algoritma tidak dapat menggantikan keteladanan, empati, doa, dan sentuhan kemanusiaan seorang pendidik. Teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan ruh pendidikan itu sendiri.
Karena itu, masa depan pendidikan Islam tidak boleh menyerahkan sepenuhnya otoritas ilmu kepada algoritma. Sebab ketika algoritma mengalahkan guru, yang hilang bukan hanya otoritas pendidikan, tetapi juga adab, hikmah, dan kemanusiaan dalam proses belajar manusia
M.T Al Iskandary.
Email: muhammadtang.mt78@gmail.com
Hp. 08114441978
