K1NG5T3R-1COLL3GE101

Mali’ Siparappe’ di Tengah Individualisme

 

Salah satu paradoks terbesar dunia modern hari ini adalah manusia semakin terhubung secara teknologi, tetapi semakin jauh secara emosional dan sosial. Globalisasi dan digitalisasi telah menciptakan dunia tanpa batas geografis, namun pada saat yang sama melahirkan budaya individualisme yang semakin kuat. Manusia hidup dalam jejaring digital yang luas, tetapi kehilangan kedalaman relasi kemanusiaan. Mereka saling mengikuti di media sosial, tetapi tidak saling memahami dalam kehidupan nyata. Mereka terhubung oleh sinyal internet, tetapi tercerabut dari akar solidaritas sosial.

Di tengah fenomena tersebut, kearifan lokal Bugis-Makassar menghadirkan satu nilai filosofis yang sangat relevan untuk dibaca ulang dalam konteks global modern, yakni falsafah:

“Mali’ siparappe’, rebba sipatokkong.”

“Jika hanyut saling menyelamatkan, jika jatuh saling menegakkan.”

Ungkapan ini bukan sekadar petuah budaya, tetapi paradigma sosial tentang pentingnya solidaritas kolektif dalam kehidupan manusia. Falsafah ini lahir dari pengalaman historis masyarakat Bugis-Makassar sebagai masyarakat maritim yang memahami bahwa kehidupan tidak dapat dijalani sendiri. Laut mengajarkan bahwa manusia hanya dapat bertahan jika saling membantu dan menjaga satu sama lain.

Namun dalam dunia global hari ini, nilai-nilai seperti ini perlahan mengalami erosi. Budaya kapitalisme modern membentuk manusia menjadi semakin kompetitif, individualistik, dan berorientasi pada kepentingan pribadi. Kesuksesan diukur melalui pencapaian individual, bukan kontribusi sosial. Manusia modern lebih sibuk membangun citra diri dibanding membangun solidaritas sosial.

Zygmunt Bauman (2000) menyebut kondisi ini sebagai liquid modernity—modernitas cair, ketika hubungan sosial menjadi rapuh, sementara manusia hidup dalam ketidakpastian identitas dan relasi. Dalam masyarakat cair, hubungan antar manusia bersifat sementara, pragmatis, dan mudah berubah. Akibatnya, manusia kehilangan rasa keterikatan sosial yang mendalam.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh budaya digital. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering kali justru memperbesar kesepian eksistensial. Byung-Chul Han (2022) menjelaskan bahwa masyarakat digital modern mengalami krisis empati karena manusia terlalu sibuk memproduksi dan mempertontonkan dirinya sendiri. Dunia digital mendorong budaya narsistik dan kompetisi citra yang membuat manusia semakin fokus pada “aku” dibanding “kita”.

Padahal dalam perspektif Islam, manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Al-Qur’an menegaskan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan…” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial dalam Islam dibangun atas prinsip kerja sama dan solidaritas moral, bukan kompetisi egoistik (Shihab, 2002). Islam tidak memandang manusia sebagai individu yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari jaringan kemanusiaan yang saling terkait.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar nilai sosial, tetapi bagian dari spiritualitas Islam. Keimanan sejati melahirkan empati sosial. Karena itu, masyarakat yang kehilangan kepedulian sosial sesungguhnya sedang mengalami krisis spiritual.

Dalam konteks Bugis-Makassar, nilai mali’ siparappe’ memiliki hubungan erat dengan konsep sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge’ (saling mengingatkan). Ketiga nilai ini membentuk fondasi etika sosial masyarakat Bugis yang humanis dan kolektif.

Menariknya, falsafah ini memiliki relevansi besar dalam dunia pendidikan Islam modern. Pendidikan hari ini terlalu fokus pada kompetisi akademik dan pencapaian individual, tetapi sering melupakan pendidikan solidaritas sosial. Sekolah dan kampus berlomba mencetak manusia pintar, tetapi belum tentu mencetak manusia peduli. Akibatnya, lahirlah generasi yang unggul secara intelektual tetapi lemah secara empatik.

Padahal tujuan pendidikan Islam bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan insan beradab (ta’dib). Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1991) menjelaskan bahwa inti pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang mampu menempatkan sesuatu secara tepat dalam relasi dengan Tuhan, manusia, dan alam. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang memiliki tanggung jawab sosial dan spiritual.

Krisis solidaritas sosial juga terlihat dalam fenomena global seperti meningkatnya depresi, kesepian, dan alienasi sosial di tengah kemajuan teknologi. WHO (2023) menunjukkan bahwa kesepian sosial telah menjadi salah satu problem kesehatan mental terbesar di dunia modern. Ironisnya, hal ini terjadi ketika manusia memiliki teknologi komunikasi paling canggih sepanjang sejarah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak otomatis menghadirkan kedekatan emosional. Manusia tetap membutuhkan sentuhan empati, kepedulian, dan kebersamaan yang autentik. Dalam konteks ini, kearifan lokal seperti mali’ siparappe’ bukan sekadar warisan budaya masa lalu, tetapi solusi moral bagi krisis kemanusiaan modern.

Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”

“Kerja keras dan kebersamaan akan menghadirkan rahmat Tuhan.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa keberhasilan hidup bukan hanya hasil usaha individual, tetapi juga hasil solidaritas kolektif dan keberkahan sosial.

Pada akhirnya, dunia modern membutuhkan revitalisasi nilai-nilai solidaritas yang mulai terkikis oleh individualisme global. Globalisasi boleh saja mempercepat arus informasi dan mobilitas manusia, tetapi jangan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan. Sebab peradaban tidak dibangun oleh manusia yang hidup sendiri-sendiri, melainkan oleh manusia yang mampu saling menopang dalam suka dan duka.

“Mali’ siparappe’, rebba sipatokkong” sesungguhnya bukan hanya falsafah Bugis-Makassar, tetapi pesan universal bahwa manusia tidak akan mampu bertahan tanpa solidaritas sosial. Dan di tengah dunia digital yang semakin individualistik, nilai inilah yang perlu dihidupkan kembali agar manusia tetap menjadi manusia. Wallahu a'lam bisshawab 

M.T. Al Iskandary 

Email: muhammadtang.mt78@gmail.com

Hp. 08114441978

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox