Salah satu problem terbesar manusia modern hari ini adalah mudahnya kehilangan pijakan hidup.
Informasi datang tanpa batas, opini bergerak sangat cepat, dan media sosial menciptakan gelombang emosi kolektif yang sering mengguncang cara berpikir manusia.
Akibatnya, banyak orang hidup tanpa keteguhan prinsip, mudah terombang-ambing oleh isu, mudah marah karena provokasi digital, dan mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar. Dalam situasi seperti ini, manusia sesungguhnya membutuhkan sesuatu yang sangat mendasar dalam dirinya: “paku” kehidupan.
Filosofi “paku” menjadi sangat menarik jika dikaitkan dengan isyarat kosmologis Al-Qur’an tentang penciptaan gunung. Allah SWT berfirman:
> “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’: 6–7).
Dalam tafsir klasik, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa gunung diciptakan Allah sebagai penyeimbang bumi agar manusia dapat hidup dengan stabil dan aman.
Gunung berfungsi seperti pasak yang mengokohkan sebuah tenda sehingga tidak mudah berguncang oleh perubahan dan tekanan alam (Ibnu Katsir, 2004).
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang spiritualitas, tetapi juga menghadirkan refleksi kosmologis yang sangat mendalam.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa penggunaan istilah awtād (pasak) mengandung makna simbolik dan saintifik sekaligus.
Gunung bukan sekadar hiasan bumi, tetapi unsur keseimbangan ekologis dan geologis yang menjaga kestabilan kehidupan manusia (Shihab, 2002).
Menurut beliau, ayat ini juga dapat dipahami secara filosofis bahwa kehidupan memerlukan “penyangga” agar manusia tidak mudah kehilangan keseimbangan moral dan spiritualnya.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
> “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak menggoncangkan kamu…” (QS. Luqman: 10).
Menurut Tafsir Al-Azhar karya Hamka, ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia melalui keteraturan alam semesta. Gunung menjadi simbol keteguhan dan keseimbangan.
Hamka menafsirkan bahwa manusia juga membutuhkan keteguhan iman agar hidupnya tidak mudah terguncang oleh hawa nafsu dan perubahan zaman (Hamka, 1983).
Sementara M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata tamīda bikum (“agar bumi tidak menggoncangkan kamu”) mengandung makna perlindungan eksistensial.
Allah menciptakan sistem keseimbangan alam agar manusia dapat hidup dengan tenang. Namun secara moral, manusia juga dituntut membangun keseimbangan batin agar tidak mudah terguncang oleh fitnah sosial dan kekacauan informasi (Shihab, 2002).
Dalam perspektif sains modern, gunung memang memiliki struktur akar geologis yang membantu menjaga stabilitas lempeng bumi (Press & Siever, 2001).
Menariknya, ayat tersebut tidak hanya mengandung makna saintifik, tetapi juga hikmah filosofis tentang kehidupan manusia.
Sebagaimana bumi membutuhkan pasak agar tidak terus berguncang, manusia pun membutuhkan “pasak batin” agar hidupnya tidak mudah goyah oleh perubahan zaman.
Tanpa nilai, prinsip, dan keyakinan yang kuat, manusia akan mudah terseret arus opini, propaganda, dan budaya digital yang serba cepat.
Di era media sosial hari ini, banyak manusia kehilangan “paku” dalam dirinya sehingga mudah berubah hanya karena viralitas dan tekanan sosial.
Fenomena ini tampak jelas dalam budaya digital modern. Masyarakat hari ini hidup dalam atmosfer post-truth society, yakni kondisi ketika emosi dan persepsi lebih dominan daripada fakta objektif (McIntyre, 2018).
Orang lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan perasaannya daripada yang berdasarkan verifikasi ilmiah. Akibatnya, hoaks, fitnah, dan manipulasi opini berkembang sangat cepat.
Dalam perspektif psikologi sosial, manusia yang tidak memiliki keteguhan identitas akan lebih mudah mengalami social conformity, yaitu kecenderungan mengikuti opini mayoritas meskipun bertentangan dengan akal sehat dan nurani (Asch, 1955).
Media sosial memperkuat fenomena ini melalui algoritma yang menciptakan ruang gema (echo chamber).
Manusia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, lalu merasa bahwa itulah kebenaran mutlak.
Di sinilah pentingnya “paku” kehidupan: nilai yang membuat manusia tetap teguh dan jernih berpikir.
Dalam Islam, paku kehidupan itu adalah iman, ilmu, dan hikmah. Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai manusia yang memiliki keteguhan hati:
> “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat…” (QS. Ibrahim: 27).
M. Quraish Shihab, menjelaskan berdasar ayat tersebut bahwa keteguhan orang beriman lahir dari keyakinan mendalam terhadap kebenaran sehingga mereka tidak mudah terguncang oleh tekanan sosial maupun godaan duniawi (Shihab, 2002).
Sedangkan Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menafsirkan ayat ini sebagai bentuk kekuatan spiritual yang membuat manusia mampu bertahan di tengah krisis dan fitnah zaman (Qutb, 2003).
Ayat ini menunjukkan bahwa keteguhan hidup tidak lahir dari kekuatan materi atau popularitas sosial, tetapi dari kedalaman iman dan kejernihan ilmu.
Manusia yang memiliki “paku” spiritual tidak mudah panik oleh keadaan, tidak mudah marah oleh provokasi, dan tidak mudah kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Dalam tradisi Bugis-Makassar, keteguhan prinsip juga menjadi fondasi utama kehidupan manusia. Nilai getteng dalam falsafah Sulapa Eppa’ mengajarkan pentingnya konsistensi moral dan keteguhan pendirian. Orang Bugis memandang bahwa manusia yang mudah berubah karena tekanan sosial adalah manusia yang kehilangan *siri’*; harga diri moralnya.
Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:
> “Taro ada taro gau.”
“Apa yang diucapkan harus sesuai dengan perbuatannya.”
Ungkapan ini sesungguhnya adalah filosofi “paku” dalam budaya Bugis-Makassar. Seorang manusia harus memiliki integritas antara pikiran, ucapan, dan tindakan. Ketika prinsip hidup tertanam kuat, maka ia tidak mudah goyah oleh opini dan tekanan lingkungan.
Filosofi “paku” mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya hidup mengikuti arus zaman. Ia harus memiliki nilai yang meneguhkan dirinya: iman yang kuat, ilmu yang jernih, dan hikmah yang mendalam. Sebab dunia akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan opini akan terus berganti.
Namun manusia yang memiliki “paku” dalam dirinya tidak akan mudah runtuh oleh badai zaman.
Sebagaimana gunung menjadi pasak bumi agar tidak berguncang, demikian pula iman, ilmu, dan hikmah harus menjadi pasak dalam jiwa manusia agar ia tetap teguh di tengah kegaduhan dunia digital. Wallahu a'lam bisshawab.
Makassar, 12/5/2026
M.T. Al Iskandary.
