Di tengah gemuruh revolusi digital dan derasnya arus media sosial, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi krisis yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan teknologi: krisis eksistensi kemanusiaan.
Ironisnya, di era ketika manusia semakin terkoneksi secara virtual, justru banyak yang kehilangan makna tentang apa artinya menjadi manusia.
Dalam perspektif budaya Bugis-Makassar, fenomena ini dapat dibaca melalui metafora yang sangat filosofis: pergeseran dari tau menjadi *tau-tau*.
Dalam bahasa Bugis-Makassar, *tau* berarti manusia; makhluk yang memiliki kesadaran, martabat, akal, hati, dan tanggung jawab moral.
Sementara *tau-tau* dalam tradisi Toraja adalah patung atau representasi simbolik manusia yang dipajang sebagai penanda status dan eksistensi sosial. Sedang dalam tradisi Bugis-Makassar *"tau-tau"*, dibuat oleh petani di sawah sebagai pajangan pengusir burung.
Makna "tau-tau" secara mendalam adalah manusia yang hanya berwajah manusia, tapi tidak memiliki sipat *"sipakatau"*(memanusiakan manusia).
Jika ditarik ke dalam konteks digital modern, banyak manusia hari ini secara fisik masih tau, tetapi secara eksistensial perlahan berubah menjadi *"tau-tau"*, hidup sebagai pajangan sosial, citra digital, dan simbol visual yang kehilangan kedalaman kemanusiaan.
Media sosial menciptakan budaya representasi tanpa substansi. Manusia modern lebih sibuk membangun tampilan dibanding membangun karakter.
Mereka berlomba memperlihatkan kehidupan, tetapi kehilangan makna kehidupan itu sendiri.
Identitas manusia akhirnya diukur melalui jumlah pengikut, tanda suka, viralitas, dan validasi digital.
Dalam dunia algoritma, manusia tidak lagi dinilai berdasarkan kedalaman ilmu atau kemuliaan akhlaknya, tetapi berdasarkan seberapa menarik dirinya untuk dikonsumsi secara visual.
Fenomena ini dijelaskan Jean Baudrillard (1994) melalui konsep simulacra, yaitu kondisi ketika simbol dan citra lebih dominan daripada realitas itu sendiri.
Manusia hidup dalam dunia representasi, bukan dunia autentik. Apa yang tampak di media sosial sering bukan realitas kehidupan, tetapi konstruksi citra yang sengaja dibentuk untuk mendapatkan pengakuan sosial. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Dalam perspektif sosiologi digital, kondisi ini diperparah oleh budaya algoritmik. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan logika perhatian (attention economy). Semakin sensasional, emosional, dan visual suatu konten, maka semakin besar peluangnya untuk disebarkan. Akibatnya, manusia terdorong untuk terus mempertontonkan dirinya demi tetap “terlihat” dalam ruang digital.
Byung-Chul Han (2022) menyebut fenomena ini sebagai the transparency society, masyarakat yang terobsesi untuk terus tampil dan terlihat, tetapi kehilangan ruang kontemplasi dan kedalaman diri.
Padahal dalam perspektif Islam, manusia bukan sekadar makhluk biologis atau simbol sosial, tetapi makhluk mulia yang memiliki dimensi spiritual dan moral. Allah SWT berfirman:
> “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70).
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kesadaran moral dan spiritualnya, bukan pada pencitraan eksternal.
Manusia dalam Islam adalah khalifah fil ardh, subjek peradaban yang bertugas memakmurkan bumi dan menjaga martabat kemanusiaan. Ketika manusia kehilangan kesadaran tersebut, maka ia jatuh menjadi objek budaya dan algoritma
Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Hadits ini memberikan ukuran eksistensi manusia yang sangat berbeda dengan budaya digital modern.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh popularitasnya, tetapi oleh kebermanfaatannya.
Dalam dunia digital hari ini, banyak orang ingin dikenal, tetapi sedikit yang ingin benar-benar berguna.
Dalam tradisi Bugis-Makassar, manusia ideal bukan sekadar *tau*, tetapi *tau tongeng*,, manusia sejati yang memiliki *siri’* (harga diri moral), *pesse’* (empati sosial), dan adab dalam relasi sosial. Karena itu, budaya Bugis mengenal konsep sipakatau (saling memanusiakan manusia).
Nilai ini sangat penting di era digital ketika manusia semakin mudah menghina, merendahkan, dan menyerang sesamanya melalui ruang virtual.
Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:
> “Aja’ muancaji tau maega napau, narekko de’ gaga toddomu.”
“Jangan menjadi manusia yang banyak bicara jika tidak ada dasar kebenaran yang menopangnya.”
Ungkapan ini terasa sangat relevan di era media sosial.
Banyak manusia berbicara tanpa ilmu, berkomentar tanpa hikmah, dan menghakimi tanpa empati. Ruang digital akhirnya dipenuhi kebisingan opini tetapi miskin kebijaksanaan.
Fenomena perubahan *tau* menjadi *tau-tau* juga menunjukkan krisis spiritual masyarakat modern.
Erich Fromm (1976) menyebut manusia modern mengalami pergeseran dari being menuju having; dari orientasi menjadi manusia menuju orientasi memiliki dan mempertontonkan sesuatu.
Manusia tidak lagi bertanya “siapa aku?”, tetapi “bagaimana aku terlihat?”. Akibatnya, kehidupan menjadi pertunjukan tanpa kedalaman batin.
Pendidikan Islam menghadapi tantangan besar dalam situasi ini. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan literasi digital atau keterampilan teknologi, tetapi harus membangun kesadaran eksistensial manusia.
Peserta didik perlu diajarkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan identitas diri.
Pendidikan Islam harus menghidupkan kembali dimensi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), agar manusia tidak kehilangan arah di tengah dunia digital yang penuh simulasi.
Dalam perspektif filsafat Islam, manusia sejati adalah manusia yang mengenal dirinya dan Tuhannya. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ma’rifat al-nafs; mengenal hakikat diri.
Ketika manusia gagal memahami dirinya, maka ia mudah terjebak menjadi budak citra dan algoritma.
Tantangan terbesar manusia digital bukan sekadar bagaimana menguasai teknologi, tetapi bagaimana tetap menjadi manusia di tengah dominasi teknologi.
Dunia digital boleh saja menciptakan ruang tanpa batas, tetapi manusia tidak boleh kehilangan batas moral dan spiritualnya.
Sebab ketika manusia hanya hidup untuk dipertontonkan, maka ia bukan lagi tau yang memanusiakan, tetapi sekadar *"tau-tau"*, simbol tanpa jiwa, citra tanpa hikmah, dan eksistensi tanpa makna. Wallahu a'lam bisshawab.
Makassar, 11/5/2026
M.T. Al Iskandary.
Email: muhammadtang.mt78@gmail.com
Hp. 08114441978
