K1NG5T3R-1COLL3GE101

Ketika Alam Kehilangan Keseimbangan, Manusia Kehilangan Kesabaran



Refleksi atas Krisis Ekologis, Krisis Psikologis, dan Krisis Karakter di Era Perubahan Iklim

Perubahan iklim dewasa ini tidak hanya menghadirkan ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan hidup, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental manusia.

 Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa meningkatnya kesadaran terhadap kerusakan lingkungan memunculkan fenomena eco-anxiety, yaitu kecemasan, stres, dan ketakutan yang berkaitan dengan masa depan bumi (Cosh et al., 2024). 

Hubungan antara perubahan iklim dan gangguan psikologis ditemukan secara konsisten dalam berbagai studi internasional, terutama berupa meningkatnya kecemasan, depresi, dan tekanan emosional masyarakat.

Menurut Boehme et al. (2024), perubahan iklim telah menjadi faktor psikososial global yang memengaruhi cara manusia memandang masa depan, memaknai kehidupan, dan membangun hubungan sosial. 

Dalam kondisi demikian, ketidakstabilan ekologis berpotensi melahirkan ketidakstabilan emosional.

Dengan kata lain, ketika suhu bumi meningkat, suhu emosi manusia juga berpotensi meningkat. Fenomena yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai pergeseran dari global warming menuju global anger.

Menurunnya Ketahanan Sosial

Dalam teori ketahanan sosial (social resilience), masyarakat yang mengalami tekanan lingkungan berkepanjangan cenderung mengalami penurunan solidaritas sosial apabila tidak memiliki modal sosial yang kuat.

 Ketidakpastian ekonomi, bencana ekologis, dan perubahan pola hidup dapat memicu konflik horizontal, polarisasi sosial, serta menurunnya tingkat kepercayaan antarkelompok.

Robert Putnam (2020) menegaskan bahwa modal sosial berupa kepercayaan, jaringan sosial, dan norma kolektif merupakan fondasi penting bagi ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis. 

Ketika ikatan sosial melemah, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap konflik dan disintegrasi.

Kondisi inilah yang saat ini mulai terlihat di berbagai ruang publik, termasuk media sosial. Perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai kekayaan demokrasi, tetapi sering berubah menjadi permusuhan yang menguras energi sosial.

Krisis Karakter di Tengah Krisis Lingkungan

Ki Hajar Dewantara sejak awal telah mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar mencerdaskan otak, melainkan menuntun tumbuhnya seluruh potensi kemanusiaan agar manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara, 2013).

Dalam konteks perubahan iklim, pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan literasi lingkungan (environmental literacy), tetapi juga membangun ecological consciousness atau kesadaran ekologis. 

Pendidikan karakter harus diarahkan untuk melahirkan manusia yang mampu mengendalikan diri, memiliki empati sosial, serta bertanggung jawab terhadap keberlanjutan alam.

UNESCO (2023) menegaskan bahwa pendidikan berkelanjutan (Education for Sustainable Development) merupakan instrumen utama dalam membentuk generasi yang memiliki kemampuan adaptif, resilien, dan peduli terhadap lingkungan.

Dengan demikian, krisis lingkungan sesungguhnya tidak dapat diselesaikan hanya melalui teknologi, tetapi juga melalui transformasi nilai dan karakter manusia.

Alam dan Jiwa dalam Satu Kesatuan

Islam memandang manusia dan alam sebagai bagian dari sistem kosmik yang saling terhubung. Kerusakan lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.

Allah SWT berfirman:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Menurut Tafsir Al-Misbah, ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan alam merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang melampaui batas keseimbangan yang telah ditetapkan Allah (Shihab, 2002).

Sementara itu, Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa kerusakan (fasad) mencakup kerusakan sosial, ekonomi, politik, maupun lingkungan hidup yang muncul akibat penyimpangan manusia dari petunjuk Ilahi (Ibn Kathir, 1999).

Ayat lain menegaskan:

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A'raf [7]: 56).

Menurut Tafsir Ath-Thabari, larangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga segala bentuk tindakan yang menghilangkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia dan alam semesta (Ath-Thabari, 2001).

Rasulullah dan Pendidikan Kesabaran

Dalam konteks pengendalian emosi, Rasulullah SAW bersabda:

"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan amarahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kekuatan dalam Islam bukan dominasi terhadap orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kemarahan yang tidak terkendali merupakan salah satu sumber utama kerusakan hubungan sosial dan hilangnya kebijaksanaan manusia (Al-Ghazali, 2005).

Karena itu, Islam menghubungkan kesalehan spiritual dengan ketenangan psikologis. Semakin kuat hubungan manusia dengan Tuhan, semakin besar kemampuannya menjaga keseimbangan emosional.

Falsafah Bugis-Makassar: Harmoni Alam dan Harmoni Jiwa

Kearifan lokal Bugis-Makassar sesungguhnya memiliki pesan ekologis yang sangat mendalam.

Konsep Sipakatau mengajarkan manusia untuk saling memanusiakan.

Sipakalebbi mengajarkan saling menghormati.

Sedangkan Sipakainge' mengajarkan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ketiga nilai tersebut merupakan fondasi ketahanan sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Selain itu terdapat konsep Siri' na Pacce.

Menurut Mattulada (1995), siri' merupakan kehormatan moral yang harus dijaga, sedangkan pacce merupakan solidaritas kemanusiaan yang melahirkan empati terhadap penderitaan orang lain.

Dalam konteks krisis lingkungan modern, nilai pacce dapat dimaknai sebagai empati ekologis, yaitu kemampuan merasakan penderitaan masyarakat dan alam yang terdampak kerusakan lingkungan.

Masyarakat Bugis juga mengenal prinsip:

"Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata"

(Hanya kerja keras yang sungguh-sungguh yang akan menghadirkan rahmat Tuhan).

Filosofi ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak lahir dari eksploitasi alam, tetapi dari kerja yang bertanggung jawab dan beretika. Wallahu a'lam bisshawab

 Daftar Referensi

Al-Ghazali. (2005). Ihya' Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Ath-Thabari. (2001). Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-Risalah.

Boehme, B. A. E., Kinsman, L. M., Norrie, H. J., Tessier, E. D., Fleming, S. W., & Asmundson, G. J. G. (2024). Climate anxiety: Current evidence and future directions. Current Psychiatry Reports, 26(11), 670–677.

Cosh, S. M., Ryan, R., Fallander, K., Robinson, K., Tognela, J., Tully, P. J., & Lykins, A. D. (2024). The relationship between climate change and mental health: A systematic review. BMC Psychiatry, 24(833).

Dewantara, K. H. (2013). Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka. Yogyakarta: UST Press.

Ibn Kathir. (1999). Tafsir al-Qur'an al-'Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Mattulada. (1995). Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

UNESCO. (2023). Education for Sustainable Development Goals: Learning Objectives. Paris: UNESCO.

Email: muhammadtang.mt78@gmail.com

Hp. 08114441978

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox