K1NG5T3R-1COLL3GE101

Refleksi 10 Muharram: Dari Kisah Para Nabi Menuju Kebangkitan Bangsa


Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam mengenang berbagai peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah kemanusiaan. Hari itu diyakini sebagai momentum diselamatkannya Nabi Musa a.s. dari kejaran Fir'aun, diterimanya taubat Nabi Adam a.s., keluarnya Nabi Yunus a.s. dari perut ikan, berlabuhnya kapal Nabi Nuh a.s. setelah banjir besar, hingga syahidnya cucu Rasulullah Saw., Husain bin Ali, di Karbala.

Sekilas, peristiwa-peristiwa tersebut tampak sebagai kisah masa lalu. Namun jika dicermati secara mendalam, semuanya mengandung satu pesan yang sama: perubahan besar hanya lahir dari keberanian berhijrah dari keadaan lama menuju keadaan yang lebih baik.

Di tengah peringatan Tahun Baru Islam 1448 H, pertanyaan penting yang layak diajukan adalah: sudahkah bangsa ini berhijrah? Ataukah kita hanya berpindah kalender tanpa berpindah mentalitas?

Indonesia saat ini sedang menatap visi besar Indonesia Emas 2045. Pada tahun itu Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia dengan bonus demografi yang mencapai puncaknya. 

Namun bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila diiringi dengan bonus kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya, ia dapat berubah menjadi bencana sosial apabila tidak dikelola dengan baik (World Bank, 2023).

Dalam konteks inilah Muharram menjadi sangat relevan sebagai momentum refleksi nasional.

Musa dan Fir'aun: Melawan Mentalitas Ketergantungan

Kisah Nabi Musa a.s. yang diselamatkan dari kejaran Fir'aun bukan sekadar cerita tentang mukjizat terbelahnya laut. Kisah tersebut mengandung pelajaran tentang perjuangan melawan sistem penindasan dan ketergantungan.

Fir'aun adalah simbol kekuasaan yang membuat masyarakat kehilangan kemandirian berpikir. Dalam konteks kekinian, Fir'aun dapat menjelma dalam bentuk budaya konsumtif, ketergantungan teknologi asing, dan rendahnya daya inovasi bangsa.

Data menunjukkan bahwa Indonesia masih lebih banyak menjadi konsumen teknologi dibandingkan produsen teknologi. Nilai ekspor produk berteknologi tinggi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia Timur yang berhasil mengubah riset menjadi kekuatan ekonomi (UNESCO, 2024).

Karena itu, hijrah menuju Indonesia Emas bukan sekadar membangun jalan dan gedung, tetapi membangun kemandirian ilmu pengetahuan dan inovasi.

Taubat Nabi Adam: Keberanian Mengakui Kesalahan

Salah satu pelajaran terbesar dari Nabi Adam a.s. adalah keberanian mengakui kesalahan.

Dalam kehidupan berbangsa, kemajuan hanya dapat dicapai apabila ada budaya evaluasi dan koreksi diri. Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah salah, melainkan bangsa yang berani memperbaiki kesalahannya.

Sayangnya, dalam ruang publik kita sering menyaksikan budaya saling menyalahkan lebih dominan daripada budaya memperbaiki diri. Kritik sering dianggap ancaman, sementara evaluasi dianggap serangan politik.

Padahal dalam teori organisasi modern, kemampuan melakukan refleksi dan pembelajaran berkelanjutan merupakan syarat utama bagi lahirnya inovasi (Senge, 2006).

Muharram mengajarkan bahwa taubat bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga paradigma pembangunan.

Nabi Yunus: Keluar dari Perut Krisis

Nabi Yunus a.s. keluar dari perut ikan setelah melewati fase kesadaran, introspeksi, dan pengakuan atas keterbatasan dirinya.

Indonesia saat ini menghadapi berbagai "perut ikan" modern:

  • krisis kualitas pendidikan,
  • ketimpangan ekonomi,
  • korupsi,
  • degradasi lingkungan,
  • dan polarisasi sosial.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih menghadapi tantangan serius dibandingkan negara-negara maju (OECD, 2023).

Jika Nabi Yunus berhasil keluar dari perut ikan karena kesadaran dan perubahan diri, maka bangsa ini juga hanya dapat keluar dari berbagai krisis melalui reformasi pendidikan, penguatan riset, dan pembangunan karakter.

Tidak ada jalan pintas menuju Indonesia Emas.

Nabi Nuh: Kesabaran Membangun Peradaban

Kapal Nabi Nuh bukan dibangun dalam sehari. Ia lahir dari kesabaran panjang, visi jauh ke depan, dan kerja keras yang konsisten.

Demikian pula pembangunan bangsa.

Indonesia sering terjebak dalam budaya instan. Kita ingin hasil cepat, tetapi enggan berproses. Kita ingin menjadi negara maju, tetapi investasi pada pendidikan, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan masih relatif rendah dibandingkan negara-negara yang telah lebih dahulu maju (UNDP, 2024).

Padahal sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang menjadi kekuatan dunia tanpa membangun tradisi ilmu pengetahuan.

Muharram mengajarkan bahwa peradaban besar selalu dibangun melalui proses panjang dan ketekunan.

Karbala: Ketika Kebenaran Harus Dibela

Peristiwa Karbala merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam.

Syahidnya Husain bin Ali bukan sekadar konflik politik, tetapi simbol perjuangan menegakkan kebenaran di tengah dominasi kekuasaan.

Dalam konteks Indonesia modern, Karbala mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pembangunan berlangsung secara adil, transparan, dan berintegritas.

Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik oligarki merupakan ancaman serius bagi masa depan demokrasi dan pembangunan nasional.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap integritas lembaga-lembaga publik masih menjadi tantangan besar dalam tata kelola pemerintahan di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia (Transparency International, 2024).

Spirit Karbala mengajarkan bahwa kemajuan tanpa moralitas hanya akan melahirkan kemegahan yang rapuh.

Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?

Visi Indonesia Emas 2045 bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi.

Ia membutuhkan hijrah kolektif. Hijrah dari budaya konsumtif menuju budaya produktif.

Hijrah dari mentalitas pengikut menjadi mentalitas pencipta.

Hijrah dari politik jangka pendek menuju pembangunan peradaban jangka panjang.

Hijrah dari budaya seremonial menuju budaya inovasi.

Muharram mengingatkan bahwa setiap perubahan besar dalam sejarah selalu diawali oleh keberanian meninggalkan zona nyaman.

Sebagaimana Musa meninggalkan ketakutan, Adam meninggalkan kesalahan, Yunus meninggalkan keputusasaan, Nuh meninggalkan keraguan, dan Husain meninggalkan kompromi terhadap ketidakadilan.

Tahun Baru Islam 1448 H seharusnya tidak berhenti pada ucapan selamat dan pergantian angka kalender. Muharram adalah panggilan peradaban untuk melakukan hijrah yang sesungguhnya.

Jika bangsa ini mampu mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa besar yang diperingati pada 10 Muharram, maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan politik, melainkan cita-cita yang dapat diwujudkan.

Namun jika Muharram hanya menjadi ritual tahunan tanpa transformasi mentalitas, maka yang terjadi bukan Indonesia Emas, melainkan Indonesia yang terus berjalan di tempat.

Karena sesungguhnya masa depan tidak ditentukan oleh berapa kali kita merayakan tahun baru, tetapi oleh seberapa jauh kita berani berhijrah menuju perubahan.

Referensi

OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.

Senge, P. M. (2006). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York: Doubleday.

Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2024. Berlin: Transparency International.

UNDP. (2024). Human Development Report 2024. New York: United Nations Development Programme.

UNESCO. (2024). Science Report: The Race Against Time for Smarter Development. Paris: UNESCO Publishing.

World Bank. (2023). Indonesia Economic Prospects: Harnessing the Demographic Dividend. Washington, DC: World Bank.

Email: muhammadtang.mt78@gmail.com 

Hp. 08114441978


SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox