K1NG5T3R-1COLL3GE101

"Integrasi Simbol Ilahiah dan Simbol Insaniyah dalam Ibadah Qurban"

Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan umat Islam. Ia adalah momentum spiritual yang menyimpan pesan besar tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia. 

Dalam konteks dunia modern yang dipenuhi krisis sosial, ketimpangan ekonomi, individualisme digital, dan melemahnya solidaritas kemanusiaan, Iduladha sesungguhnya hadir sebagai kritik moral terhadap manusia modern yang semakin religius secara simbolik tetapi sering kehilangan sensitivitas sosial.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat hari ini. Masjid semakin megah, ritual keagamaan semakin ramai, tetapi pada saat yang sama ketimpangan sosial terus melebar. 

Media sosial dipenuhi simbol-simbol religiusitas, tetapi empati terhadap penderitaan sesama perlahan melemah. Banyak manusia merasa dekat dengan Tuhan, tetapi jauh dari kepedulian terhadap manusia lainnya.

Dalam konteks inilah pesan QS. Al-Kautsar ayat 2 menjadi sangat relevan:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”

Ayat ini sangat pendek, tetapi mengandung filosofi peradaban yang sangat mendalam. Allah menyandingkan dua simbol besar sekaligus: shalat dan qurban. Shalat merepresentasikan dimensi ilahiah; hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Sedangkan qurban merepresentasikan dimensi insaniyah; hubungan horizontal manusia dengan sesama manusia.

Ayat ini dalam perspektif teologis menunjukkan bahwa spiritualitas sejati tidak pernah berhenti pada ritual individual. 

Kedekatan kepada Allah harus melahirkan kepedulian sosial dan tanggung jawab kemanusiaan. 

Kesalehan spiritual tanpa empati sosial hanya akan melahirkan religiusitas simbolik yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan.

M. Quraish Shihab (2002) menjelaskan bahwa penyandingan shalat dan qurban dalam ayat ini menunjukkan integrasi antara ibadah spiritual dan ibadah sosial. Islam tidak menghendaki manusia hanya tenggelam dalam ritual, tetapi mengabaikan penderitaan masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, Islam juga tidak memisahkan kepedulian sosial dari fondasi spiritual dan ketauhidan.

Karena itu, Iduladha sesungguhnya adalah pendidikan integratif tentang kemanusiaan. Ritual qurban bukan pertama-tama tentang darah dan daging hewan, tetapi tentang kemampuan manusia menyembelih egoisme, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan.

Al-Qur’an menegaskan:

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini menunjukkan bahwa esensi qurban bukan formalitas ritual, tetapi transformasi moral manusia. Yang dinilai Allah bukan besarnya hewan qurban, tetapi kualitas ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang lahir dari ibadah tersebut.

Namun problem dunia modern hari ini justru berada pada krisis kemanusiaan. Menurut laporan World Inequality Report 2024, ketimpangan ekonomi global semakin meningkat. Sementara segelintir orang menguasai kekayaan dunia, jutaan manusia masih hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dan keterasingan sosial. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital justru sering memperkuat individualisme dan budaya konsumtif.

Fenomena ini melahirkan paradoks besar manusia modern: teknologi berkembang sangat cepat, tetapi rasa kemanusiaan sering berjalan lambat. 

Artificial Intelligence berkembang pesat, tetapi empati sosial mengalami degradasi. Dunia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin terfragmentasi secara emosional dan sosial.

Padahal spirit Iduladha mengajarkan solidaritas sosial dan penghormatan terhadap martabat manusia. 

Ketika daging qurban dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya Islam sedang membangun filosofi distribusi sosial dan keadilan kemanusiaan.

Qurban mengajarkan bahwa kebahagiaan spiritual tidak boleh dinikmati sendiri, tetapi harus dibagikan kepada sesama manusia.

Émile Durkheim(1912) menjelaskan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi sosial membangun solidaritas kolektif masyarakat. Iduladha bukan sekadar ritual individual menuju kesalehan personal, tetapi mekanisme sosial untuk memperkuat persaudaraan, empati, dan kepedulian sosial.

Hal tersebut sangat dekat dengan falsafah Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial. Dalam budaya Bugis terdapat ungkapan:

“Malilu sipakainge’, mali siparappe’, rebba sipatokkong.”

Artinya:

“Jika ada yang khilaf saling mengingatkan, jika ada yang hanyut saling menyelamatkan, jika ada yang jatuh saling menegakkan.”

Falsafah ini sesungguhnya sejalan dengan spirit Iduladha. Qurban bukan sekadar ibadah individual, tetapi manifestasi kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan. 

Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia..

Dalam budaya Bugis-Makassar juga dikenal konsep siri’ na pacce. Siri’ berarti menjaga kehormatan dan integritas diri, sedangkan pacce adalah empati mendalam terhadap penderitaan orang lain. Nilai pacce inilah yang sangat relevan di tengah masyarakat modern yang semakin individualistik.

Hari ini banyak manusia hidup berkecukupan, tetapi di sekitarnya masih ada tetangga yang kelaparan, anak yatim yang terlantar, dan masyarakat kecil yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam situasi seperti ini, Iduladha sesungguhnya hadir sebagai kritik moral terhadap manusia yang rajin beribadah tetapi gagal menghadirkan kasih sayang sosial.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya tampak dalam ritual, tetapi dalam kemampuan menghadirkan cinta, empati, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Karena itu, Iduladha harus dimaknai lebih luas sebagai gerakan kemanusiaan. Menyembelih hewan qurban harus diiringi dengan menyembelih sifat-sifat destruktif dalam diri manusia: keserakahan, kebencian, egoisme, kesombongan, dan rasa merasa paling benar sendiri.

Iduladha juga mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan. Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:

“Aja’ muoloi onrong ri linoe, nasaba linoe pabbatang passampoang.”

Artinya:

“Jangan terlalu mencintai dunia, sebab dunia hanyalah tempat persinggahan.”

Qurban mengingatkan manusia bahwa harta hanyalah titipan Allah. Apa yang dimiliki manusia pada akhirnya harus kembali memberi manfaat bagi kehidupan sesama.

Iduladha bukan hanya perayaan ritual, tetapi proyek besar membangun peradaban kemanusiaan. 

Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan manusia yang rajin beribadah, tetapi manusia yang mampu menghadirkan kasih sayang, keadilan, dan solidaritas sosial di tengah krisis modernitas.

Sebab ritual langit yang sejati adalah ritual yang mampu menyentuh luka bumi dan menghadirkan kemanusiaan bagi sesama manusia. Wallahu a'lam bisshawab.

Referensi

Quraish Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati.

Durkheim, É. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. Free Press.

World Inequality Lab. (2024). World Inequality Report 2024.

Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. HarperCollins.

Esposito, J. L. (2021). Islam and Humanity in the Modern World. Oxford University Press.

Email: muhammadtang.mt78@gmail.com

Hp. 08114441978

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

Get the latest educational resources on the market delivered to your inbox