Hari tasyrik dalam syariat Islam adalah tiga hari setelah Iduladha 11, 12, dan 13 Zulhijjah; yang diberikan sebagai ruang spiritual dan sosial bagi umat Islam untuk melanjutkan penyembelihan qurban, memperbanyak zikir, menikmati makanan, dan mempererat hubungan kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda:
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).
Secara fikih, hari tasyrik memang berkaitan dengan waktu penyembelihan qurban. Namun jika direnungkan lebih dalam, hari tasyrik sesungguhnya mengandung filosofi sosial dan peradaban yang sangat besar, terutama ketika dikaitkan dengan fenomena kehidupan umat Islam modern hari ini yang mengalami krisis spiritualitas, polarisasi sosial, individualisme digital, dan melemahnya solidaritas kemanusiaan.
Ironisnya, di tengah meningkatnya simbol-simbol religiusitas, umat Islam justru sedang menghadapi berbagai problem internal yang serius.
Dunia Islam sering ramai dengan perdebatan mazhab, politik identitas, dan konflik simbolik keagamaan, tetapi sering kehilangan energi untuk membangun ilmu pengetahuan, solidaritas sosial, dan peradaban kemanusiaan.
Media sosial umat Islam dipenuhi ceramah, konten dakwah, dan simbol religius, tetapi pada saat yang sama ujaran kebencian, fitnah digital, dan budaya saling menjatuhkan juga semakin meningkat.
Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks keberagamaan modern: manusia semakin religius secara simbolik, tetapi sering kehilangan kedalaman spiritual dan sensitivitas sosial.
Hari tasyrik dalam konteks tersebut menjadi sangat relevan. Hari tasyrik sesungguhnya bukan hanya “hari makan dan minum,” tetapi pendidikan spiritual tentang keseimbangan hidup, syukur sosial, dan kemanusiaan kolektif.
Islam mengajarkan bahwa setelah manusia melaksanakan ritual besar seperti Iduladha, ia tidak langsung kembali pada rutinitas keras dunia, tetapi diberi ruang untuk menikmati nikmat Tuhan, mempererat persaudaraan, dan memperbanyak zikir kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang memusuhi kebahagiaan manusia. Islam justru menghendaki keseimbangan antara spiritualitas, sosialitas, dan kemanusiaan.
Namun problem manusia modern hari ini adalah hidup dalam budaya percepatan (culture of acceleration).
Dunia digital membuat manusia terus bergerak tanpa jeda. Media sosial memaksa manusia selalu terlihat aktif, sukses, dan produktif. Akibatnya, manusia kehilangan ruang refleksi, syukur, dan ketenangan hidup.
Byung-Chul Han (2022) menyebut masyarakat modern sebagai burnout society; masyarakat yang mengalami kelelahan eksistensial akibat tekanan produktivitas tanpa henti.
Fenomena tersebut juga terjadi di kalangan umat Islam. Banyak orang rajin mengikuti kajian agama, tetapi hidup dalam kecemasan sosial dan tekanan psikologis.
Banyak yang aktif berdakwah di media sosial, tetapi sulit membangun hubungan harmonis dalam keluarga dan masyarakat.
Banyak yang sibuk memperdebatkan halal-haram secara simbolik, tetapi kurang peduli terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan umat.
Padahal hari tasyrik mengajarkan bahwa keberagamaan tidak boleh memutus manusia dari kemanusiaannya.
Islam menghendaki manusia mampu menikmati nikmat Tuhan dengan penuh syukur, berbagi kebahagiaan dengan sesama, dan menghadirkan kasih sayang sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menegaskan:
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang merasa cukup dan kepada orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36).
Ayat ini menunjukkan bahwa qurban dan hari tasyrik bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi mekanisme sosial distribusi kebahagiaan dan solidaritas sosial. Islam tidak ingin kebahagiaan hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.
Spirit hari tasyrik dalam perspektif ekonomi+sosial sangat relevan di tengah meningkatnya ketimpangan ekonomi umat.
Laporan World Inequality Report menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi global terus meningkat, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim (World Inequality Lab, 2024). Sementara sebagian kecil masyarakat hidup dalam kemewahan berlebihan, jutaan lainnya masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
Hari tasyrik mengajarkan filosofi distribusi sosial. Daging qurban tidak boleh menumpuk pada kelompok tertentu, tetapi harus mengalir kepada masyarakat yang membutuhkan. Spirit ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga keadilan sosial dan keberpihakan kepada kelompok lemah.
Hari tasyrik apabila dipotret dari sisi psikologis juga mengandung pendidikan tentang gratitude (rasa syukur). Penelitian Emmons dan McCullough (2003) menunjukkan bahwa rasa syukur memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental, optimisme, dan kualitas relasi sosial manusia.
Ironisnya, manusia modern justru semakin sulit bersyukur karena hidup dalam budaya perbandingan sosial yang dipercepat media digital.
Media sosial membuat manusia terus membandingkan hidupnya dengan orang lain: membandingkan kekayaan, penampilan, jabatan, popularitas, bahkan religiusitas.
Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan menikmati nikmat sederhana yang dimilikinya. Hari tasyrik hadir untuk mengembalikan manusia pada kesadaran dasar bahwa hidup bukan sekadar kompetisi tanpa akhir, tetapi juga tentang menikmati nikmat Tuhan dengan penuh kesadaran spiritual.
Selain itu, hari tasyrik juga memiliki dimensi sosiologis yang sangat kuat. Dalam teori Émile Durkheim (1912), ritual keagamaan berfungsi membangun solidaritas kolektif masyarakat.
Ketika masyarakat berkumpul, makan bersama, berbagi qurban, dan mempererat silaturahmi, maka terbentuk ikatan sosial yang memperkuat kohesi sosial umat.
Hal tersebut sangat penting di tengah fenomena masyarakat modern yang semakin individualistik dan terfragmentasi.
Teknologi digital memang mendekatkan manusia secara virtual, tetapi sering menjauhkan manusia secara emosional.
Banyak keluarga tinggal serumah tetapi sibuk dengan telepon genggam masing-masing.
Banyak orang memiliki ribuan pengikut media sosial tetapi merasa kesepian dalam kehidupan nyata.
Hari tasyrik mengajarkan pentingnya kehadiran sosial dan kebersamaan kemanusiaan.
Dalam falsafah Bugis-Makassar terdapat ungkapan:
“Mali siparappe’, rebba sipatokkong.”
Artinya:
“Jika hanyut saling menyelamatkan, jika jatuh saling menegakkan.”
Nilai ini sangat dekat dengan spirit hari tasyrik. Islam tidak menghendaki umat yang sibuk dengan simbol kesalehan individual tetapi kehilangan solidaritas sosial.
Spirit qurban dan hari tasyrik adalah spirit saling menguatkan, saling berbagi, dan saling menjaga kemanusiaan.
Terdapat pula konsep sipakatau; saling memanusiakan manusia. Dalam konteks dunia modern yang semakin keras dan kompetitif, nilai ini menjadi sangat penting.
Hari tasyrik sesungguhnya mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi ekonomi, tetapi makhluk spiritual dan sosial yang membutuhkan kasih sayang, penghormatan, dan kebersamaan.
Hari tasyrik juga mengandung kritik terhadap budaya konsumtif modern. Dunia kapitalisme hari ini mendorong manusia terus membeli, mengonsumsi, dan mengejar kesenangan material tanpa batas. Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Ayat ini sangat relevan di tengah budaya konsumsi digital yang sering membuat manusia kehilangan kesadaran ekologis dan spiritual. Hari tasyrik mengajarkan bahwa menikmati nikmat Tuhan harus disertai kesederhanaan, kepedulian sosial, dan kesadaran moral.
Kehidupan umat Islam dalam konteks global, hari tasyrik juga menjadi refleksi penting bahwa umat Islam tidak cukup hanya kuat secara simbolik dan kuantitatif, tetapi harus kuat dalam solidaritas ilmu, ekonomi, teknologi, dan kemanusiaan.
Dunia Islam hari ini menghadapi banyak konflik, perang, kemiskinan, dan keterbelakangan pendidikan. Karena itu, spirit hari tasyrik harus diterjemahkan menjadi gerakan membangun persaudaraan umat, memperkuat pendidikan, mengurangi ketimpangan sosial, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan manusia.
Hikmah terbesar hari tasyrik adalah mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang ritual formal dan perlombaan duniawi.
Manusia membutuhkan ruang untuk bersyukur, berbagi, memperkuat persaudaraan, memperbaiki relasi sosial, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sebab manusia modern hari ini bukan hanya mengalami krisis ekonomi atau krisis teknologi, tetapi krisis makna hidup dan krisis kemanusiaan.
Hari tasyrik hadir untuk mengingatkan bahwa keberagamaan sejati bukan sekadar ramai dalam simbol, tetapi mampu menghadirkan kasih sayang, solidaritas, dan ketenangan dalam kehidupan umat manusia. Wallahu a'lam bisshawab.
Referensi
Bauman, Z. (2000). Liquid Modernity. Polity Press.
Durkheim, É. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. Free Press.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377–389.
Han, B. C. (2022). The Burnout Society. Stanford University Press.
Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. HarperCollins.
World Inequality Lab. (2024). World Inequality Report 2024.
Email: muhammadtang.mt78@gmail.com
Hp. 08114441978
