Globalisasi telah mengubah wajah dunia secara radikal. Batas geografis perlahan kehilangan makna ketika teknologi digital, media sosial, Artificial Intelligence (AI), dan budaya global masuk ke ruang kehidupan manusia tanpa sekat.
Hari ini seseorang di Makassar dapat berpikir seperti New York, berpakaian seperti Seoul, berbicara seperti orang Jakarta, dan mengonsumsi budaya global setiap detik melalui layar telepon genggamnya.
Dunia menjadi semakin terkoneksi, tetapi pada saat yang sama manusia perlahan mulai tercerabut dari akar identitas dan kebudayaannya sendiri.
Di tengah arus globalisasi tersebut, Indonesia menghadapi pertanyaan yang sangat mendasar: bagaimana menjadi Indonesia di tengah dunia yang semakin tidak Indonesia?
Pertanyaan ini bukan sekadar romantisme budaya atau nostalgia tradisi. Ia adalah pertanyaan tentang eksistensi bangsa, arah peradaban, dan masa depan identitas nasional. Sebab bangsa yang kehilangan identitas budayanya akan mudah kehilangan arah sejarahnya.
Fenomena globalisasi modern tidak lagi sekadar pertukaran ekonomi dan teknologi, tetapi juga pertarungan nilai, gaya hidup, dan sistem pengetahuan.
Dalam teori cultural globalization, proses ini disebut sebagai intensifikasi relasi sosial global yang menyebabkan budaya lokal perlahan mengalami erosi identitas dan homogenisasi budaya global (Tomlinson, 1999).
Globalisasi digital membuat manusia mengonsumsi musik yang sama, bahasa populer yang sama, pola komunikasi yang sama, bahkan cara berpikir yang semakin seragam.
Masalahnya, globalisasi tidak berjalan dalam posisi yang setara. Budaya global cenderung didominasi oleh negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi, media, dan teknologi.
Akibatnya, budaya lokal sering berada pada posisi defensif: dipertahankan secara simbolik tetapi perlahan kehilangan pengaruh substantif dalam kehidupan generasi muda.
Fenomena tersebut terlihat jelas di Indonesia. Bahasa daerah mulai ditinggalkan, tradisi lokal hanya hidup dalam seremoni, dan generasi muda semakin mengenal budaya digital global dibanding falsafah Nusantaranya sendiri.
Penelitian tentang keberlangsungan bahasa etnis Indonesia menunjukkan bahwa banyak bahasa daerah berada dalam ancaman kepunahan akibat rendahnya transmisi antargenerasi dan dominasi budaya global digital (Arka, 2022).
Padahal local wisdom Indonesia sesungguhnya menyimpan kekuatan peradaban yang sangat besar.
Penelitian Rasidi (2025) menunjukkan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal bukan sekadar pelestarian tradisi, tetapi sumber pembentukan identitas budaya, moralitas sosial, dan ketahanan masyarakat di tengah globalisasi (Rasidi, 2025).
Dalam konteks Indonesia, local wisdom adalah sistem nilai yang menjaga solidaritas sosial, harmoni kehidupan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Hal tersebut terlihat dalam berbagai warisan budaya Nusantara. Indonesia memiliki ribuan bentuk intangible cultural heritage yang mencakup pengetahuan ekologis, mitigasi bencana berbasis budaya, kosmologi lokal, hingga falsafah hidup masyarakat adat.
Nilai-nilai tersebut sesungguhnya adalah modal sosial dan epistemologi lokal yang sangat relevan di tengah krisis modernitas global.
Namun hari ini, globalisasi digital perlahan menggeser nilai-nilai tersebut menuju individualisme, konsumerisme, dan budaya instan. Byung-Chul Han (2022) menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat “kelelahan digital,” ketika manusia dibanjiri informasi tetapi kehilangan kedalaman refleksi dan makna hidup.
Media sosial menciptakan manusia yang sangat terkoneksi secara virtual, tetapi sering kehilangan kedalaman relasi sosial dan identitas kulturalnya.
Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya Artificial Intelligence dan algoritma global. Penelitian terbaru tentang digital neocolonialism menunjukkan bahwa AI modern cenderung membawa bias budaya Barat dan berpotensi memarginalkan pengetahuan lokal non-Barat (Nyaaba et al., 2024). Bahkan banyak model AI global masih kesulitan memahami konteks budaya Indonesia secara mendalam.
Penelitian IndoCulture menunjukkan bahwa sistem AI modern mengalami kesulitan memahami logika budaya dan konteks geografis Indonesia karena sebagian besar model dibangun dengan perspektif Anglosentris (Koto et al., 2024).
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pengetahuan budaya Indonesia dalam AI masih sangat terbatas sehingga diperlukan integrasi jurnal-jurnal sosial Indonesia untuk memperkuat pemahaman budaya lokal pada sistem AI global (Kartiyasa et al., 2026).
Persoalan ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia hari ini bukan hanya mempertahankan budaya secara simbolik, tetapi membangun kedaulatan epistemologi dan identitas budaya di era digital global.
Persoalan tersebut menjadi sangat penting apabila dipotret dalam konteks pendidikan. UNESCO menegaskan bahwa pendidikan memiliki fungsi strategis dalam menjaga ketahanan budaya dan identitas masyarakat di tengah globalisasi digital (Karomah, 2024).
Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia kompetitif secara ekonomi, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran budaya dan akar identitas yang kuat.
Sayangnya, pendidikan modern sering terlalu fokus pada kompetensi teknis dan melupakan pembentukan karakter kebudayaan. Sekolah mengajarkan global skill, tetapi sering gagal menanamkan local wisdom. Generasi muda diajarkan coding dan AI, tetapi tidak lagi memahami bahasa daerah, sejarah lokal, atau filosofi sosial bangsanya sendiri.
Padahal kemajuan sejati bukanlah ketika manusia meninggalkan identitasnya, tetapi ketika ia mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya.
Dalam falsafah Bugis-Makassar misalnya, terdapat konsep sipakatau; saling memanusiakan manusia. Konsep ini sangat relevan di tengah dunia digital yang semakin individualistik dan penuh polarisasi sosial.
Terdapat pula konsep sipakainge’; saling mengingatkan dalam kebaikan dan moralitas sosial. Nilai-nilai ini sesungguhnya adalah fondasi humanisme Nusantara yang sangat dibutuhkan dunia modern.
Dalam lontara Bugis terdapat ungkapan:
“Mali’ siparappe’, rebba sipatokkong.”
“Hanyut saling menyelamatkan, jatuh saling menegakkan.”
Ungkapan tersebut bukan sekadar pepatah budaya, tetapi filosofi solidaritas sosial bangsa Indonesia. Di tengah kapitalisme global yang semakin kompetitif dan individualistik, nilai seperti ini justru menjadi modal sosial yang sangat berharga.
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya menjaga identitas dan keberagaman manusia:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, kemudian menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya bukan ancaman, tetapi kekayaan peradaban manusia. Dalam perspektif Islam, identitas budaya tidak harus dihapus oleh modernitas, tetapi dapat menjadi jalan membangun kehidupan yang lebih manusiawi dan bermartabat.
Karena itu, menjadi Indonesia di tengah dunia yang semakin tidak Indonesia bukan berarti menolak globalisasi atau teknologi modern. Yang diperlukan adalah membangun paradigma glocal civilization: berpikir global tetapi berakar lokal.
Indonesia harus menguasai teknologi modern tanpa kehilangan kebudayaannya; aktif dalam percaturan global tanpa kehilangan jati dirinya.
Negara juga perlu serius membangun kebijakan kebudayaan dan pendidikan berbasis local wisdom.
Berbagai inisiatif digital seperti BASABali menunjukkan bahwa teknologi justru dapat menjadi instrumen pelestarian budaya apabila digunakan secara kreatif dan kontekstual.
Tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar menjadi negara maju, tetapi tetap menjadi Indonesia ketika dunia terus bergerak menuju homogenisasi global.
Sebab bangsa yang kehilangan identitas budayanya mungkin masih memiliki gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi perlahan kehilangan jiwa peradabannya sendiri. Wallahu a'lam bisshawab
Referensi
Han, B. C. (2022). Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy. Polity Press.
Karomah, L. (2024). Cultural resilience in the era of globalization. Proceedings of the International Conference on Education, Society and Humanity.
Kartiyasa, A., Cao, B. G., & Li, B. (2026). Injecting Knowledge from Social Science Journals to Improve Indonesian Cultural Understanding by LLMs.
Koto, F., Mahendra, R., Aisyah, N., & Baldwin, T. (2024). IndoCulture: Exploring Geographically-Influenced Cultural Commonsense Reasoning Across Eleven Indonesian Provinces.
Nyaaba, M., Wright, A., & Choi, G. L. (2024). Generative AI and Digital Neocolonialism in Global Education.
Rasidi, R. (2025). Education based on local wisdom: An alternative model for strengthening cultural identity amidst globalization. International Journal of Culture and Social Education.
Tomlinson, J. (1999). Globalization and Culture. University of Chicago Press.
Email: muhammadtang.mt78@gmail.comHp. 08114441978
